Suatu hari, karena ada keperluan untuk transfer, saya mampir di kantor BRI Cabang Tuban. Seperti biasa, saya masuk disapa Pak Satpam dengan ramah, seraya memberikan kartu antrian. Saya mengambil slip, mengisinya dan menunggu giliran dipanggil. Singkatnya, setelah selesai, saya diberi kartu oleh mbak yang melayani saya dalam urusan transfer. "Masukkan pada KOTAK HIJAU jika Bapak PUAS. Jika tidak, pada KOTAK MERAH" kata mbak itu seraya menunjukkan tempat kotak yang dimaksud. Saya lantas menghampiri kotak tersebut, dan memasukkan kartu pada salah satu kotak itu, kemudian pulang.
Dari peristiwa itu, saya menyadari sesuatu yang sederhana, tapi luar biasa besar pengaruhnya terhadap kinerja pelayanan BRI. Ternyata, kinerja pelayanan pegawai BRI Tuban, dievaluasi secara langsung oleh nasabahnya. Saya memang tidak tahu secara pasti, berapa hari sekali kotak itu dibuka. Lalu siapa di antara sekian banyak pegawai yang berhasil melayani nasabah dengan pelayanan prima, dan mendapatkan apresiasi yang baik dari nasabah. Siapa pula yang kinerjanya buruk, dan tidak dapat memuaskan nasabah. Kartu yang diberikan kepada saya itu, ada tulisan nama pegawai yang melayani saya. Semuanya akan dapat diketahui dengan mudah, cukup sederhana, dan murah.
Selanjutnya, pihak pimpinan akan dengan mudah mencari siapa saja yang layak diberi penghargaan, dan siapa saja yang pantas dianugerahi penistaan. Penilaian oleh nasabah bisa jadi sangat obyektif... dan bisa jadi sangat kuat pengaruhnya terhadap pagawai. Mereka tidak akan semena-mena memperlakukan nasabah. Yang pasti, nasabah adalah segalanya, harus dilayani dengan prima. Kalau tidak, nasib sang pegawai akan berujung pada mutasi, bahkan mungkin pemecatan. Sangat mungkin itu terjadi kan?
Sekarang, bagaimana kalau seandainya, cara seperti itu diberlakukan di MTs. TABAH? Yang pasti, saya sering kali mendapat protes dari siswa. "Muride nek terlambat disekor... Ustate nek terlambat gak disekor". Atau kalimat lain yang sejenis, dan searah semangatnya dengan itu. Begitu banyak... dan sepertinya melayang begitu saja aspirasi putih itu... Tidak ada respon apa-apa dari pimpinan madarasah. Mereka itu, bagi saya pribadi, seperti nasabah BRI Tuban yang membutuhkan pelayanan PRIMA.
Saya kira, jika itu diterapkan, lalu diikuti dengan pemberian penghargaan GURU TELADAN misalnya, pasti akan membawa dampak positif. Setidak-tidaknya untuk guru yang masih punya keinginan MTs. ini semakin maju. Apalagi dengan ditambah Penjatuhan Sanksi. Saya yakin, efeknya makin DAHSYAT.
Bagaimana caranya? Mudah sekali. Pak Kavi diminta membuatkan 2 kotak lagi untuk tiap kelas. Jika 23 kelas, maka 46 kotak. Satu dicat Merah untuk Isyarat Berhenti seperti lampu merah, yang akan bertugas menampung ketidak-puasan siswa. Satu lagi dicat hijau seperti isyarat lampu hijau di perempatan jalan, yang berarti jalan terus. Kotak hijau bertugas menampung kepuasan siswa. Lalu, pihak pimpinan menyiapkan kartu bertuliskan nama guru sesuai dengan jadwal di masing-masing kelas. kartu itu digandakan sejumlah siswa. Karena selama 1 minggu ada 47 jam, maka setiap siswa membawa 47 kartu nama-nama guru yang mengajar mereka.
Selanjutnya, setiap pergantian jam / peragantian guru, siswa memberikan penilaiannya. Tentu saja harus ada penjelasan yang arif dan bijaksana bari mereka. Agar pelaksanaan cara ini benar-benar fair dan adil. Guru yang berhasil memuaskan mereka, biar mereka nilai dengan PUAS, begitu juga sebaliknya.
Untuk menghindari kecurangan dari pihak-pihak tertentu, penghitungan suara dilakukan oleh OSIS atau sejenisnya. Lalu buat Persentase untuk tiap guru. Ust Anu misalnya mengajar 25 jam, mendapatkan suara Puas 20, tidak puas 5, maka kita cari berapa persentase kepuasannya, berapa persen ketidak puasannya. Setelah diketahui semua persentase dari semua guru, selanjutnya tinggal dirangking. Siapa tertinggi dan yang berhak mendapatkan predikat GURU TELADAN pada periode minggu itu, siapa pula yang mendapatkan predikat sebaliknya. Guru teladan kita berikan hadiah dan sertifikat, dan yang mendapatkan predikat sebaliknya kita usulkan untuk di-upgrade (kalau masih memungkinkan), kalau sudah di-upgrade tidak ada perubahannya, diusulkan kepada yayasan untuk ditukar dengan yang baru dan yang lebih fresh.
Tapi, jangan ngeri dulu..... Santai saja....... semua itu baru wacana.
Menurut Anda Bagaimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar